Pages

KESPRO-program peningkatan kesehatan wanita


KESEHATAN REPRODUKSI
PROGRAM KESEHATAN YANG TERKAIT DALAM MENINGKATKAN STATUS KESEHATAN WANITA
 











Disusun oleh :
Ainur Rohmah
Aminun Prahestu F
Ananta Rina
Aprilia Dewi Andhita
Asni Irmadania w
Desi Meriantika
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM
D3 KEBIDANAN/FIK
JOMBANG
2012/2013

                                                          BAB I
PENDAHULUAN
1.              Latar Belakang
Kesehatan reproduksi di defenisikan sebagai keadaan sejahtera fisik , mental dan social secara utuh , yang tidak semata-mata bebas dari penyakit dan kecacatan dan semua hal yang berkaitan dengan system reproduksi , serta fungsi dan prosesnya (UNFPA,2001).
Kesehatan reproduksi adalah kemampuan sesorang untuk dapat memanfaatkan alat reproduksi dengan mengukur kesuburannya dapat menjalani kehamilannya dan persalinan serta aman mendapatkan bayi tanpa resiko apa pun ( well health mother baby ) dan selanjutnya mengembalikan kesehatan dalam batas normal mencakup keseluruhan kehidupan manusia sejak lahir hingga mati. Dalam uraian tentang ruang lingkup kesehatan reproduksi yang lebih rinci di gunakan pendekatan siklus haid ( life cycle appooach) , sehingga diperoleh komponen pelayanan yang nyata dan dapat di laksanakan (Manuaba ,1999).
Dua dari tiga wanita di dunia saat ini menderita suatu penyakit yang sangat melemahkan manusia. Gejala-gejala umum penyakit yang mudah menyebar ini mencakup anemia kronik, malnutrisi dan kondisi yang sangat lemah. Para penderita menunjukkan kerentanan yang tinggi terhadap infeksi traktus respiratorius dan produktif, yang seringkali mengakibatkan kematian dini (premature death). Tanpa intervensi langsung, penyakit ini dapat menular dari ibu ke anak, dengan angka penularan yang sangat tinggi pada wanita dibanding pria. Meskipun penelitian telah membuktikan efikasi berbagai strategi pencegahan dan pengobatan, namun hingga kini sangat sedikit strategi yang dilaksanakan secara matang.
Wanita juga menghadapi ancaman kesehatan reproduktif yang unik. Tingginya angka penyakit yang dapat dicegah, kematian akibat komplikasi pada kehamilan dan persalinan, aborsi yang tidak aman, penyakit menular seksual, dan kanker pada alat reproduksi sering dijumpai pada wanita yang miskin dan yang tidak memiliki askes terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang komprehensif.
Kesehatan merupakan kebutuhan dengan hak setiap insan agar dapat kemampuan yang melekat dalam diri setiap insan. Hal ini hanya dapat dicapai bila masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, berperan serta untuk meningkatkan kemampuan hidup sehatnya.
Kemandirian masyarakat diperlukan untuk mengatasi masalah kesehatannya dan menjalankan upaya peecahannya sendiri adalah kelangsungan pembangunan. GBHN mengamanatkan agar dapat dikembangkan suatu sistem kesehatan nasional yang semakin mendorong peningkatan peran serta masyarakat.

2.              Tujuan
         Untuk mengetahui pemeliharaan kesehatan pada calon ibu
         Untuk mengetahui perkawinan yang sehat
         Untuk mengetahui keluarga yang sehat
         Untuk mengetahui system reproduksi dan gangguannya
         Untuk mengetahui penyakit yang mempengaruhi kehamilan dan persalinan
         Untuk mengetahui sikap dan prilaku pada masa kehamilan dan persalinan
         Untuk mengetahui pemeliharaan kesehatan ibu hamil
.




BAB II
PEMBAHASAN
Kebutuhan kesehatan wanita tidak mendapat perhatian yang cukup oleh karena suara mereka seringkali tidak terdengar dalam percaturan politik. Kebijakan pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan wanita hanya sedikit. Kenyataannya, kebijakan dan prioritas pemerintah yang tidak memperhitungkan dampak kebutuhan kesehatan wanita, seringkali mempunyai pengaruh negatif terhadap wanita. Di beberapa negara berkembang misalnya, wanita dikesampingkan dalam program yang bertujuan untuk mencegah dan mengobati penyakit jantung, kanker, dan AIDS, disamping penyakit lainnya.
Di lain pihak, peran reproduktif wanita hanya mendapat perhatian apabila angka fertilitas cukup tinggi. Akibatnya, satu-satunya pelayanan kesehatan yang sering diperoleh wanita adalah keluarga berencana, meskipun pelayanan ini lebih menekankan pada kontrol fertilitas bukan pada peningkatan kesehatan wanita (Islam, 1991). Dalam kesehatan reproduksi pun, pertimbangan agama dan politik telah mengalahkan pertimbangan kesehatan masyarakat, di mana wanita semakin sulit memperoleh hak untuk pelayanan aborsi yang aman.
Beberapa kemajuan telah dicapai lembaga internasional untuk menarik perhatian terhadap kebutuhan kesehatan wanita. Namun, tidak terjadi peningkatan ketersediaan dan penerimaan pelayanan dasar yang nyata bagi wanita. Apabila tidak segera diambil tindakan bersama, masalah klasik penyakit dan kematian wanita diikuti dengan semakin besarnya ancaman terhadap penyakit akibat kerja, tindak kekerasan domestik, meningkatnya ketergantungan terhadap aborsi yang tidak aman, penularan AIDS dan PMS (penyakit menular seksual) lainnya, serta meningkatnya kanker payudara dan serviks, akan menjadi masalah terbesar dalam masa kehidupan wanita.
Untuk kepentingan Indonesia saat ini , secara nasional telah di sepakati ada empat komponen proritas kesehatan reproduksi , yaitu : Kesehatan ibu dan bayi baru lahir, keluarga berencana, kesehatan reproduksi remaja, pencegahan dan penanganan penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS.
Pelayanan yang mencakup empat komponen prioritas di atas disebut pelayanan kesehatan reproduksi esensial (PKRE). Jika PKRE di tambah dengan pelayanan kesehatan reproduksi bagi usia lanjut maka pelayanan yang di berikan di sebut pelayanan kesehatan reproduksi komprenhensif (PKRK).
Karena terdiri atas beberapa komponen,maka pelayanan kesehatan reproduksi diupayakan agar dapat diberikan secara terpadu,berkualitas dan memperhatikan hak reproduksi perorangan. Ini berarti bahwa pelayanan kesehatan reproduksi bukanlah suatu pelayanan yang baru mampu sendiri,tetapi merupakan kombinasi berbagai pelayanan secara terpadu dan berkualitas termasuk dalam aspek komunikasi,informasi dan edukasi (KIE).
Pelayanan Kesehatan Reproduksi Pada WUS ( Wanita Usia Subur )
WUS (Wanita Usia Subur) adalah wanita yang keadaan organ reproduksinya berfungsi dengan baik antara umur 20-45 tahun. Pada wanita usia subur ini berlangsung lebih cepat dari pada pria. Puncak kesuburan ada pada rentang usia 20-29 tahun. Pada usia ini wanita memiliki kesempatan 95% untuk hamil. Pada usia 30-an presentasenya menurun hingga 90%. Sedangkan memasuki usia 40, kesempatan hamil berkurang hingga menjadi 40%. Setelah usia 40 wanita hanya punya maksimal 10% kesempatan untuk hamil.
Masalah kesuburan alat reproduksi merupakan hal yang sangat penting untuk diketahui. Dimana dalam masa wanita subur ini harus menjaga dan merawat personal hygiene yaitu pemeliharaan keadaan alat kelaminya dengan rajin membersihkannya. Oleh karena itu WUS dianjurkan untuk merawat diri. Untuk mengetahui tanda-tanda wanita subur antara lain dengan melihat siklus haidnya.
1. Siklus Haid
Wanita yang mempunyai siklus haid teratur setiap bulan biasanya subur. Satu putaran haid dimulai dari hari pertama keluar haid hingga sehari sebelum haid datang kembali, yang biasanya berlangsung selama 28-30 hari. Oleh karena itu siklus haid dapat dijadikan indikasi pertama untuk menandai seorang wanita subur atau tidak. Siklus menstruasi dipengaruhi oleh hormon seks perempuan yaitu estrogen dan progesteron.
Hormon-hormon ini menyebabkan perubahan fisiologis pada tubuh perempuan yang dapat dilihat melalui beberapa indikator klinis seperti, perubahan suhu basal tubuh, perubahan sekresi lendir leher rahim (serviks), perubahan pada serviks, panjangnya siklus menstruasi (metode kalender) dan indikator minor kesuburan seperti nyeri perut dan perubahan payudara.
2. Pembekalan pengetahuan untuk menjaga kesehatan reproduksi wanita
a.     Personal Hygiene, misalnya :
Mandi 2x sehari - Ganti pakaian dalam setiap hari - Hindari keadaan lembab di vagina  - Mamakai pembalut yang tidak mengandung zat berbahaya (berbahaya ditandai dengan mudah rusaknya pembalut jika terkena air)  - Ganti pembalut maksimal tiap 6 jam atau bila sudah penuh oleh darah haid - Cebok dari arah depan ke belakang - Hindari penggunaan sabun/cairan pembersih vagina.
b.     Gizi
Hindari 5 P (Pewarna, pengawet, penyedap, pengenyal) - Konsumsi buah dan sayuran.
c.     Perilaku seks
Hindari perilaku seks bebas diluar nikah.
d.     Perkembnagan fisik, kejiwaan dan kematangan seksual remaja
Pengembangan pengetahuan tentang perubahan yang terjadi secera fisik , kejiwaan dan kematangan seksual akan memudahkan remaja untuk memahami serta mengatasi berbagai keadaan yang membingungkannya. Informasi tentang haid dan mimpi basah , serta tentang alat reproduksi remaja laki – laki dan perempuan perlu di peroleh setiap remaja.
e.     Proses reproduksi yang bertanggung jawab
f.      Pergaulan yang sehat antara remaja laki – laki dan perempuan serta kewaspadaan terhadap masalah remaja yang banyak di temukan . Remaja memerlukan informasi tersebut agar selalu waspada dan berprilaku reproduksi sehat dalam bergaul dengan lawan jenisnya.
g.     Persiapan pranikah. Informasi tentang hal ini di perlukan agar calon pengantin lebih siap secara mental dan emosional dalam memasuki kehidupan berkeluarga .
h.     Kehamilan dan persalinan , serta cara pencegahannya, remaja perlu mendapat informasi tentang hal ini sebagai persiapan bagi remaja pria dan wanita dalam memasuki kehidupan berkeluarga di masa depan.
3. Pelayanan kesehatan dengan deteksi dini kanker sistem reproduksi
Kanker system reproduksi meliputi kanker leher rahim , payudara , indung telur , rahim , dan alat kelamin perempuan .
Ciri-ciri yang perlu di curigai akan adanya kanker leher rahim :
a.     Adanya cairan vagina abnormal ( duh vagina )
b.     Perdarahan di waktu haid atau haid dengan perdarahan hebat
c.     Perdarahan setelah melakukan hubungan seksual
d.     Paritas tinggi dan di atas 30 tahun
Pemeriksaan pap smear :
Cara termudah untuk mengetahui secara dini kanker leher rahim adalah melalui pemeriksaan pap smear yaitu pemeriksaan yang di lakukan dengan mengambil usapan sel dan lender leher rahim untuk mengetahui apakah ada perubahan pada sel secara mikroskopis .
Untuk mengetahui secara dini kanker leher rahim , di anjurkan kepada para wanita untuk melakukan pemeriksaan papsmear secara teratur , paling tidak sekali setiap tahun :
a.     Pada umur berapapun pada usia subur
b.     Telah berhubungan seks lebih dari 1 tahun
c.     Ada atau tidak ada cairan vagina yang mencurigakan
4. Pemeriksaan untuk mendeteksi kanker payudara
Berikut adalah cara sederhana untuk menentukan tumor payudara sedini mungkin. Cara ini dikenal dengan istilah yang merupakan singkatan dari SADARI ( periksa payudara sendiri). Pemeriksaan terdiri dari atas 7 langkah berikut:
a. Memperhatikan payudara melalui kaca, sementara kedua lengan lurus kebawah
b. Memperhatikan payudara di depan kaca sementara kedua lengan diangkat lurus ke atas.
c. Perhatikan apakah ada tarikan pada permukaan kulit
d. Memijat daerah sekitar puting dengan perlahan untuk melihat apakah ada cairan abnormal yang keluar
e. Berbaring dengan lengan kanan dibawah kepala sementara punggung kanan diganjal dengan bantal kecil, kemudian seluruh permukaan payudara kanan di raba dengan tiga pucuk jari tengah tangan kiri yang di harapkan.
f.  Ketiga jari tersebut di gerakkan memutar dengan tekanan lembut tapi mantap, dimulai dipinggir kemudian ke tengah (puting) dan kembali lagi dari pinggir dengan mengikuti putaran jarum jam.
g. Melakukan hal yang sama untuk payudara kiri
h. Memperhatikan secara khusus seperempat bagian payudara sebelah luar atas, baik kanan maupun kiri. Bagian tersebut paling sering mengandung tumor.
i.  Pemeriksaan ini dianjurkan untuk di lakukan secara teratur sekali sebulan setelah haid
5. Pelayanan Kesehatan Reproduksi Pada Klimakterium / Monopause
Kata menopause berasal dari bahasa yunani yang berarti ”bulan” dan ”penghentian sementara” (Wirakusumah,Emma.S, 2004).
Menopause atau mati haid adalah masa dimana seorang perempuan mendapatkan haid atau datang bulan atau menstruasi terakhir secara alami dan tidak lagi haid selama 12 bulan berturut-turut (Departemen Kesehatan RI, 2005).
Umumnya terjadi menopause mulai terjadi pada permpuan berusia sekitar 45-55 tahun (Departemen Kesehatan RI, 2005).
Permasalahan Pokok Kesehatan Wanita
Kasus Kematian Ibu
Menurut definisi, kematian ibu hanya dapat terjadi jika terdapat tiga peristiwa dalam satu rangkaian (1). Seorang wanita hamil, (2). Ia menderita komplikasi obstetrik dan (3). Komplikasi tersebut menyebabkan kematian. Kerangka ini menghasilkan tiga titik intervensi yaitu mencegah kehamilan , mencegah perkembangan komplikasi, dan mencegah kematian yang disebabkan oleh komplikasi tersebut.
Pencegahan kehamilan yang mengurangi kematian ibu terutama dengan jalan mengurangi jumlah wanita yang berisiko mengalami komplikasi obstetrik. Tujuan utama Initiatif Safe Motherhood bukan untuk mencegah kaum wanita mempunyai anak, melainkan untuk memastikan bahwa jika memang ingin mempunyai anak, wanita dapat melakukannya secara aman.
Kematian ibu dapat diklasifikasikan menurut penyebab mediknya sebagi kematian obstetrik "langsung dan "tidak langsung". Kematian obstetrik tidak langsung disebabkan oleh kondisi medik yang telah ada sebelumnya seperti malaria, hepatitis atau anemia, yang diperburuk oleh kehamilan. Di negara-negara berkembang hal ini mencapai 25 % kematian ibu. Kematian obstetrik langsung disebabkan oleh komplikasi kehamilan, persalinan atau periode pasca persalinan, antara lain perdarahan, aborsi yang disengaja, hipertensi, infeksi, dan persalinan obstruksi. Kematian obstetrik langsung terjadi pada 75 % kematian ibu.
Keluarga Berencana
Keluarga berencana mempunyai potensi yang besar dalam meningkatkan kesehatan reproduksi wanita. Pemanfaatan metode kontrasepsi keluarga berencana untuk menjarangkan atau membatasi kelahiran akan meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Penggunaan beberapa metode kontrasepsi secara tepat, misalnya kondom, diafragma, dan pil hormon, dapat membantu wanita dan pasangannya mencegah penularan infeksi traktus reproduktif.
Pelayanan kontrasepsi sendiri tidak cukup untuk menjaga kesehatan reproduksi wanita. Sayangnya, pelayanan ini seringkali ditawarkan di luar, bukan sebagai bagian dari masalah-masalah pelayanan kesehatan reproduksi dalam arti luas. Misalnya, kehamilan yang tidak dikehendaki, infeksi traktus reproduksi, dan infertilitas. Kondisi seperti ini dapat dialami satu kali atau lebih dalam kehidupan wanita.
Terlebih lagi, pemerintah dan pembuat kebijakan tidak memenuhi kebutuhan wanita, melainkan justru mengembangkan program yang sangat terbatas ruang lingkupnya (Jacobson, 1991). Hanya sedikit program yang menyediakan berbagai macam metode kontrasepsi, sehingga menjamin agar wanita mampu mencapai keseimbangan antara risiko individual dan preferensi pemakaian kontrasepsi, serta beralih ke metode lain sejalan dengan berubahnya kebutuhan reproduksi. Sedikit pula fasilitas pelayanan kesehatan yang menyediakan pelayanan konseling yang memadai dan pelayanan tindak lanjut untuk mengatasi tingginya wanita yang membutuhkan pengendalian kehamilan namun tidak mrnyukai kontrasepsi yang mereka gunakan saat ini.
Aborsi
Tiga fakta utama tentang aborsi yang mengangkat aborsi sebagai masalah kesehatan masyarakat yang harus mendapatkan perhatian adalah :
1.      aborsi yang dilaksanakan secara tidak aman merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian wanita;
2.     kebutuhan akan induksi aborsi merupakan kenyataan yang sering dan terus-menerus dijumpai;
3.     wanita tidak perlu meninggal akibat aborsi yang tidak aman, sebab jika induksi dilaksanakan secara benar dan higienis, tindakan aborsi sangatlah aman.
Komplikasi akibat aborsi yang tidak aman menyebabkan kurang lebih 40 % kematian ibu di dunia (Coeytauux et al.,1989; Royston dan Armstrong,1989). Kematian bukan merupakan satu-satunya akibat aborsi yang tidak aman. Selain wanita meninggal, ratusan di antara ribuan wanita bertahan hidup hanya untuk menderita komplikasi yang serius. Hal ini termasuk sepsis, perdarahan, perforasi rahim, dan trauma serviks yang sering menyebabkan kerusakan fisik yang menetap, kesakitan kronis, infertilitas dan kelainan psikologis (Coeytaux, 1990;McLaurin et al.,1991).
Disamping masalah kesehatan, aborsi juga menimbulkan kerugian-kerugian lain. Pada wanita, kerugian tersebut meliputi : kerugian waktu, stres psikologis, kerugian biaya, dan lebih banyak lagi beban individual yang lain. Dalam masyarakat dan keluarga, aborsi yang tidak aman masih meminta korban. Dari korban-korban ini, anak yang tak beribu mungkin merupakan kondisi yang paling menyedihkan.
Selain besarnya kerugian secara individual, perawatan komplikasi aborsi menimbulkan beban yang berat bagi sistem kesehatan di negara berkembang, hal ini dapat mengkonsumsi hingga 50 % anggaran rumah sakit (WHO,1990,1987). Ironisnya, biaya pelayanan kegawatdaruratan untuk mengatasi kegagalan aborsi jauh lebih besar daripada biaya untuk melaksanakan ratusan lebih aborsi yang aman secara medik.
Tingginya tingkat kematian dan kesakitan akibat aborsi lebih disebabkan oleh kurangnya kesempatan untuk mendapatkan pelayanan aborsi yang aman, bukan risiko akibat tindakan aborsi itu sendiri. Pelarangan aborsi sebagai tindakan legal, adanya hambatan-hambatan logistik, dan kebijakan induksi aborsi memaksa banyak wanita bergantung pada tenaga gelap yang seringkali kurang terlatih dan bekerja dengan cara yang kurang higienis. Alternatif lain, wanita mungkin berusaha untuk mengakhiri kehamilannya dengan metode yang berbahaya seperti halnya menelan zat beracun atau menggunakan benda tajam. Beberapa peneliti menganggap risiko kematian akibat aborsi yang tidak aman 100 sampai 500 kali lebih besar daripada aborsi yang aman (Roysten dan Armstrong,1989).
Wanita tidak seharusnya meninggal atau menanggung konsekuensi medik akibat aborsi, karena aborsi tidak membunuh wanita. Hal yang menyebabkan kematian adalah aborsi yang dilakukan secara tidak aman. Induksi aborsi yang dikerjakan dengan cara tidak aman adalah penyebab tunggal kematian wanita yang terbesar, sekaligus penyebab kematian yang dapat dicegah. Di antara seluruh penyebab utama kematian ibu, penyebab kematian karena aborsi merupakan sebab yang paling jelas (Maine,1991).
Dua cara yang jelas dapat mengurangi dan akhirnya menghilangkan kesakitan dan kematian akibat aborsi yang tidak aman adalah : 1). Menjamin akses wanita terhadap pelayanan aborsi yang tepat waktu, aman, efektif, dan ramah dengan menggunakan teknologi yang ada ; dan 2). Mengaitkan pelayanan aborsi dengan pelayanan keluarga berencana yang bermutu tinggi.
AIDS
Faktor yang menyebabkan diagnosa AIDS terlambat pada wanita antara lain: sulitnya mendatangkan fasilitas, buruknya penggunaan fasilitas kesehatan, sedikitnya kecurigaan tenaga kesehatan terhadap kemungkinan timbulnya AIDS pada wanita. Selain itu, wanita yang mempunyai resiko tinggi untuk terkena AIDS tidak menyadari infeksi HIV sejak dari awal.
Pusat pencegahan dan Pengendalian penyakit (Center of Disease Control) menganjurkan agar semua wanita yang berusia subur dan mempunyai perilaku yang berisiko tinggi harus menjalani konsultasi dan pemeriksaan HIV.
Apabila seorang wanita terdeteksi HIV, ada beberapa pemeriksaan lanjutan yang perlu dilakukan, antara lain :
a.     -Pengambilan riwayat ginekologi lengkap, termasuk riwayat menstruasi, obstreti, kontrasepsi dan aktivitas seksual.
b.     -Pemeriksaan fisik : pemeriksaan payudara dan pelvis.
c.     -Pemeriksaan laboratorium : pap-smear, kultur serviks untuk mencari adanya clamidia dan gonorrhea, VDRA, VDRL dan test kehamilan jika ada indikasi.
d.     -Mammogram untuk wanita yang berusia antara 35 – 39 tahun, 2 tahun sekali sampai dengan berusia 44 tahun.
e.     -Kalposkopi merupakan pilihan, tetapi dengan adanya data baru pemeriksaan ini sangat dianjurkan.
Wanita yang terinfeksi HIV masih mempunyai hak untuk memilih metode kontrasepsi yang mereka sukai. Infeksi HIV tampaknya tidak menghambat keinginan untuk hamil pada beberapa wanita, walaupun demikian ada pula sebagian wanita yang tidak menghendaki kehamilan. Wanita-wanita ini perlu mendapatkan konseling mengenai jenis-jenis kontrasepsi disertai informasi tentang keuntungan dan kerugiannya.
PMS (Penyakit Menular Seksual )
Ada tiga penyebab PMS yaitu bakteri, virus, dan parasit.
1. PMS yang disebabkan oleh bakteri
a. Gonore (Gonorrhea)
Gonore yang sering disebut 'clap' atau 'drip' disebabkan oleh bakteri gonokukus. Bakteri ini hidup pada lingkungan yang hangat dan lembab, seperti yang ditemukan pada selaput lendir saluran kencing pria dan wanita atau pada leher rahim wanita. Gonore hampir selalu dipindahkan melalui kegiatan seksual per vaginal, oral maupun anal. Pada wanita tempat utama yang diserang adalah leher rahim atau serviks dengan terjadinya radang cervicitas yang disertai keluarnya cairan seperti nanah berwarna kuning kehijauan dari daerah kemaluan. Bila gonore didiagnosa dengan cepat, maka penyakit ini hampir selamanya bisa disembuhkan, langkah awal penyembuhan adalah dengan melakukan pemeriksaan laboratorium. Penyakit ini dapat disembuhkan dengan antibiotika (penisillin).
b. Sifilis
Bakteri yang menyebabkan sifilis adalah Treponema pallidum. Sifilis biasanya ditularkan dengan persetubuhan lewat vagina maupun anal, atau seks oral dengan orang yang terinfeksi. Treonema pallidum biasanya berpindah sewaktu kontak melalui luka lecet yang terbuka pada penderita menuju kulit sehat yang terkelupas akibat lecet atau selaput lendir dari orang lain. Wanita hamil dapat menularkan sifilis kepada anak yang dikandungnya, karena bakteri tersebut dapat menembus plasenta. Hal ini dapat menyebabkan keguguran, lahir mati atau sifilis kongenita. Sifilis kongenita dapat mengakibatkan kerusakan penglihatan dan pendengaran atau merusak bentuk gigi dan tulang.
c. Clamidia
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Clamidia tachomatis. Bakteri ini menimbulkan berbagai infeksi seperti : peradangan saluran kencing, cervicitis, endometritis dan PID pada wanita. Infeksi Clamidia biasanya berlangsung pada hubungan seks lewat vagina dan anus.
d. Vaginitis
Adalah infeksi atau peradangan pada vagina. Vaginitis biasanya ditandai dengan adanya cairan berbau kurang enak yang keluar dari vagina. Gejala lain adalah gatal atau iritasi di daerah kemaluan dan perih di daerah kencing. Vaginitis kadang bisa disebabkan karena alergi terhadap bahan kimia.
e. Candidiasis
Disebabkan oleh jamur Candidia albicans, biasanya menimbulkan gejala peradangan, gatal dan perih di daerah kemaluan. Candidiasis dapat ditularkan secara seksual antar pasangan seks, sehingga kedua pasangan harus diobati secara simultan.
2. PMS yang disebabkan oleh virus
a. Herpes
Virus Herpes simplex menimbulkan berbagai jenis herpes. Herpes simplex type-1 (HSV-1) mengakibatkan herpes mulut, berupa lecet dan benjolan disertai selesma dan demam di daerah mulut dan bibir. HSV-1 dapat ditularkan ke daerah kemaluan dengan sentuhan atau seks oral. HSV-2 mengakibatkan lepuh, nyeri dan luka di daerah kemaluan. Wanita yang tertular herpes mempunyai resiko tiga kali lebih besar mengalami keguguran daripada wanita sehat.
b. Genital warts
Disebut juga veneral wart, disebabkan oleh human papiloma virus (HPV). HPV ini terutama menyerang wanita dan pria berusia 20 - 24 tahun. Wanita yang melakukan hubungan seks mulai usia pada usia 18 tahun dan mempunyai beberapa pasangan seks adalah kelompok yang sangat rentan terhadap HPV. HPV ditularkan melalui kontaks seks atau jenis lainnya lewat pakaian dan handuk. HPV sering dikaitkan dengan kanker leher rahim, karena sering ditemukan pada wanita yang menderita kanker serviks.
3.PMS yang disebabkan oleh parasit
a. Trichomoniasis (Trich)
Adalah infeksi vagina yang disebabkan oleh suatu parasit atau suatu protozoa. Gejalanya adalah rasa gatal dan terbakar di daerah kemaluan, disertai dengan dengan keluarnya cairan berwarna putih seperti busa atau juga kuning kehijauan yang berbau busuk. Penyakit ini ditularkan secara seksual pada pria dan wanita dan dapat diobati dengan metronidazale ( flagyl).
b. Pediculosis
Pediculosis adalah terdapatnya kutu pada bulu-bulu di daerah kemaluan. Kutu pubis pubis ini diberi julukan 'crabs', yang sering ditularkan secara seksual, atau kontak melalui handuk, sprei dan tempat duduk di toilet, yang tumbuh di kepala bergayut pada akar-akar rambut. Kutu pubis dapat dimusnahkan dengan obat (Kwel) yang berbentuk krim atau cairan (shampo).
Kanker
1.Kanker Serviks
Kaker serviks merupakan penyebab kematian utama karena kanker pada wanita di negara-negara berkembang. Setiap tahun diperkirakan 500.000 kasus kanker baru di negara-negara berkembang. Di Indonesia diperkirakan 90- 100 kanker baru di antara penduduk 100.000/tahun. Studi epidemiologik mengklaim bahwa faktor risiko terjadinya kanker serviks meliputi hubungan seksual pada usia dini (<20 tahun) , berganti-ganti pasangan seksual, merokok, trauma kronis pada serviks uteri dan higiene genetalia.
a. Faktor resiko :
1). Perilaku seksual
Telah pada berbagai penelitian epidemioligik menunjukkan bahwa golongan wanita yang mulai melakukan hubungan seksual pada usia kurang 20 tahun atau mempunyai pasangan seksual yang berganti-ganti lebih berisiko menderita kanker serviks. Tinjauan pustaka mengenai etiologi kanker rahim menunjukkan bahwa faktor risiko lain yang penting adalah hubungan seksual suami dengan wanita tuna susila (WTS) dan dari sumber itu membawa penyebab kanker (karsinogen) terhadap istrinya.
2). Merokok
Tembakau mengandung bahan-bahan karsinogen, baik yang dihisap sebagai rokok atau dikunyah. Asap rokok menghasilkan policyclic aromatic hydrocarbon heterocyclic nitrosamines. Pada wanita perokok konsentrasi nikotin pada getah serviks 56 kali lebih tinggi dibandingkan di dalam serum. Efek langsung bahan-bahan tersebut pada serviks adalah menurunkan status imun lokal sehingga dapat menjadi kokarsinogen infeksi virus.
3). Nutrisi
Banyak sayur dan buah mengandung zat anti oksidan dan berkhasiat mencegah kanker, misalnya advokat, brokoli, kol, wortel, jeruk, anggur, bawang, bayam, tomat. Dari beberapa penelitian ternyata defisiensi asam folat (folic Acid), vitamin C, vitamin E beta karoten/retinal dihubungkan dengan peningkatan risiko kanker serviks. Vitamin C, vitamin E dan beta karoten mempunyai khasiat anti oksidan yang kuat. Anti oksidan dapat melindungi DNA/RNA terhadap pengaruh buruk radikal bebas yang terbentuk akibat oksidansi karsinogen bahan kimia. Vitamin E banyak terdapat dalam minyak nabati ( kedelai, jagung, dan kacang-kacangan ), vitamin C banyak terdapat dalam sayur-sayuran dan buah-buahan.
b. Penemuan dini :
1). Sitologi
Yaitu dengan tes pap untuk mendeteksi lesi secara dini, tingkat ketelitiannya mencapai 90 % bila dilakukan dengan baik.
2). Kolposkopi
Adalah pemeriksaan dengan menggunakan kalpaskap, suatu alat yang dapat disamakan dengan sebuah mikroskop bertenaga rendah dengan sumber cahaya didalamnya yang menilai perubahan pada epikel dan vaskuler serviks yang mencerminkan perubahan biokimia dan perubahan metabolik yang terjadi di jaringan serviks. Pemeriksaan kolposkopi ini untuk menentukan kapan dan dimana biopsi harus dilakukan.
3). Biopsi
Biopsi dilakukan di daerah abnormal jika SSK ( Sambungan Skuamosa Kolumnar) terlihat seluruhnya dengan kolpaskopi. Jika SSK tidak terlihat seluruhnya atau hanya terlihat sebagian sehingga kelamari di dalam kanalis servikalis tidak dapat dinilai, maka contoh jaringan diambil secara konisasi.
4). Konisasi
Konisasi ialah pengeluaran sebagian jaringan serviks sedemikian rupa sehingga yang dikeluarkan berbentuk kerucut (konus). Untuk tujuan diagnostik, tindakan konisasi harus selalu dilanjutkan dengan kuretase.
5). Pemeriksaan visual langsung
Pada daerah dimana fasilitas pemeriksaan sitologi dan kolposkopi tidak ada, maka pemeriksaan visual langsung dapat digunakan untuk mendeteksi kanker secara dini. Jika penyakit dapat dideteksi pada tingkat ini, maka perjalanan penyakit selanjutnya menjadi kanker invasif dapat dicegah.
2. Kanker Payudara
Kanker payudara ialah kanker yang berasal dari kelenjar, jaringan areola dan puting payudara. Kanker payudar banyak dijumpai pada wanita di Indonesia, merupakan kanker terbanyak kedua setelah kanker serviks. Hasil pengobatan kanker payudara sampai saat ini belum memuaskan bagi penderita, keluarga, dan dokter yang mengobati. Kanker dalam stadium dini diperkirakan masih dapat disembuhkan, namun jika sudah lanjut sukar atau tidak dapat disembuhkan lagi. Untuk menyatakan seorang penderita kanker payudara sembuh sangat sukar, karena setelah pengobatan dan setelah penderita dibebaskan dari kanker sewaktu-waktu dapat kambuh lagi.
a. Penyebab kanker payudara
Penyebab kanker payudara sampai saat ini belum seluruhnya diketahui dengan jelas. Kanker payudara terjadi karena adanya kerusakan pada gen yangg mengatur pertumbuhan dan diferensiasi sel, sehingga sel itu tumbuh dan berkembang biak tanpa dapat dikendalikan. Kerusakan gen itu dapat disebabkan oleh karsinogen, virus, sinar ionisasi, hormon dan sebagainya. Ada beberapa faktor yang memudahkan timbulnya kanker payudara sehingga seseorang dapat lebih mudah dihinggapi kanker ini.
b. Keluhan dan gejala kanker payudara
Keluhan penderita kanker payudara dapat bermacam-macam :
1). Keluhan pada payudara
1)      Tumor pada payudara umumnya tidak nyeri, ini yang terbanyak.
2)     Nyeri pada payudara, kadang-kadang
3)     Ulkus pada payudara
4)     Retraksi puting susu
5)     Perdarahan dari puting susu
6)     Eksim pada puting susu
7)     Payudara mengecil atau membesar
2). Keluhan karena penyebaran
a)     Nyeri di tulang-tulang, seperti rematik
b)     Sakit kepala/pusing
c)     Patah tulang
d)     Lumpuh
e)     Batuk-batuk
3). Tidak ada keluhan
Kanker ditemukan karena :
a)      "Check up" payudara atau kesehatan
b)     Skrining
c. Prevensi
Prevensi adalah cara yang terbaik untuk menanggulangi kanker payudara. Tetapi cara ini sukar dijalankan dan belum tentu kanker itu dapat dicegah.
Beberapa cara mencegah timbulnya kanker payudara itu ialah :
1.      Eksisi tumor jinak payudara
2.     Obat dysplasia mamma atau penyakit fibrokistik mamma dengan baik
3.     Susui anak selama 1-2 tahun
4.     Koreksi inversi puting susu, supaya dapat dipakai menyusui anak dengan baik
5.     Diet yang tidak banyak lemak dan alkohol supaya badan tidak gemuk
d. Deteksi
Deteksi kanker ialah usaha untuk mencari adanya kanker yang masih kecil atau masih dapat disembuhkan dan kelainan pra kanker pada segolongan masyarakat tertentu yang terlihat sehat pada waktu yang tertentu. Deteksi kanker mamma itu umumnya dikerjakan pada golongan masyarakat yang mempunyai risiko tinggi mendapat kanker payudara. Ada beberapa cara deteksi kanker payudara:
1.      Pemeriksaan payudara sendiri
2.     Pemeriksaan fisik oleh dokter
3.     Mammografi
e. Terapi
1). Tujuan terapi :
a)     Kuratif yaitu terapi untuk menyembuhkan penderita
b)     Paliatif yaitu terapi untuk menghilangkan keluhan dan memperbaiki kualitas hidup penderita dengan harapan dapat memperpanjang hidupnya tanpa memperpanjang penderitaan
c)     Simtomatik yaitu terapi untuk mengurangi keluhan tanpa mengharapkan memperpanjang hidup, supaya penderita dapat meninggal dengan tenang
2). Macam-macam terapi
      i.        Terapi utama : Ialah terapi untuk kanker payudara itu, baik untuk tumor primer atau metastasisnya
     ii.        Terapi adjuvan (tambahan): Ialah terapi yang ditambahkan untuk menghilangkan mikrometastasisnya
    iii.        Terapi komplikasi: Ialah terapi untuk menanggulangi komplikasi yang timbul
    iv.        Terapi bantuan: Ialah terapi untuk melapangkan jalan untuk terapi utama atau terapi lainnya, supaya kondisi penderita tetap baik
     v.        Terapi sekunder: Ialah terapi untuk menanggulangi penyakit sekunder yang ada
3). Cara terapi :
a). Operasi (b). Radioterapi (c). Kemoterapi (d). Terapi hormone (e). Immunoterapi (f). Terapi kombinasi
f. Rehabilitasi
Ada bermacam-macam rehabilitasi untuk penderita kanker payudara, yaitu:
1). Rehabilitasi fisik:
1.      Memakai protesis payudara
2.     Operasi rekonstruksi payudara
3.     Latihan gerakan lengan
4.     Koreksi edema lengan
2). Rehabilitasi mental
3). Rehabilitasi seksual
4). Rehabilitasi pekerjaan
Adapun hal-hal yang perlu dilakukan adalah :
a.     -Memperkuat atau menyusun peraturan yang dibutuhkan untuk meningkatkan status wanita.
b.     -Meningkatkan upaya-upaya untuk memperluas kesempatan pendidikan bagi perempuan dan menurunkan angka buta huruf.
c.     -Menangani kebutuhan khusus wanita di bidang tenaga kerja dan pembangunan ekonomi.
d.     -Melaksanakan kebijakan peningkatan status gizi wanita dan anak perempuan, dan memperluas pendidikan gizi.
e.     -Menjamin akses wanita terhadap air bersih dan sumber daya esensial lainnya.
f.      -Mengembangkan program-program dan kebijakan terhadap kesehatan dan status sosial ekonomi wanita.
g.     -Memacu penelitian mengenai faktor-faktor sosioekonomi yang mempengaruhi perilaku mencari pelayanan kesehatan; tingkat kepatuhan; sikap dan proses pengambilan keputusan wanita; dan persepsi dan pandangan wanita.



Daftar Pustaka
1.Koblinsky, Marge;Timyan,Judith;Gay, Jill, 1997. Kesehatan Wanita Sebuah Perspektif Global, Gajah Mada University Press.
2.Smyke, Patricia, 1995. Women and Health, London & New Jersey, Zed Books Ltd.
3.Sukardja,IDG, 1993. Kanker Payudara, Majalah Kedokteran Indonesia , No. 6, Juni , Vol. 43, hal 367 -373.
4.Syahrum, Hatta, 1981. Berbagai Aspek Infertilitas Pria dan Wanita yang perlu diketahui Dokter Umum, Majalah Kedokteran Indonesia, Vol. 31, No. 1-2, Januari/Februari, hal 23-27.
5.Sjamsuddin, Sjahrul, 2001.Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Serviks. Cermin Dunia Kedokteran, No. 133, hal 9-14.
6.Ekasari, Flora; Jusuf, Anwar, 2001. Kanker Paru pada Perempuan. Majalah Kedokteran Indonesia, Vol. 51, No. 6, Juni, hal 213 -216.
7.Hutapea, Ronald, 1995. Aids dan PMS dan Perkosaan. PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Sosial Budaya dan Kesehatan (Tembakau)



FENOMENA SOSIAL BUDAYA & KESEHATAN
I MISS YOU BUT I HATE YOU

Banyak fenomena yang terjadi di indonesia mengenai  kopi dan rokok. Merokok merupakan suatu aktifitas yang di lakukan di warung kopi, pesantren, rumah dll. Bahkan dimanapun masyarakat berada ( khususnya bagi  pecinta kopi dan rokok ) mereka selalu tidak terlepas dari kopi dan rokok. Mereka tidak memandang bahwa merokok memiliki sisi negatif yang fatal bagi kesehatan jasmani, citra negatif rokok akhirnya menjadi doktrin yang kebenarannya tidak dapat dipertanyakan lagi, yang ada hanya citra negatif yang dipandang secara obyektif. Sangat jarang kita dengar atau bahkan hampir tidak ada pendapat-pendapat yang menyerukan manfaat rokok, atau ungkapan netral yang memandang rokok dari sudut lain yang tidak terbumbui dogma dan citra negatifnya, kalaupun ada hanya pampangan seperti ini ”Merokok Dapat Menyebabkan Kanker, Paru-Paru, Serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin”.
Rokok (at-tabgh, at-tutun, dan at-tinbak) sudah masyhur dikalanggan bngsa Arab. Dalam ilmu kedokteran tembakau disebut dengan bubunjir. Tembakau pada mulanya dalah tanaman lokal di suatu daerah yang bernama Tobago-suatu negeri di wilayah Meksiko, Amerika Utara. Pada masa pendudukan Amerika, berbondong-bondonglah orang-orang dari Eropa untuk singgah dan menetap di “dunia baru” tersebut. Mereka bergaul dengan penduduk ( asli ) Amerika sehingga tahulah mereka tradisi dan adat istiadat penduduk asli, termasuk dalam hal merokok. Ketertarikan mereka terhadap tradisi merokok membuat mereka membawa bibit tanaman tembakau ini ke negeri-negeri Eropa, khususnya ketika ada di antara mereka yang pulang ke kampung halaman.
Pemindahan bibit ini terjadi pada 1517 M. Atau 935 H. Hanya saja, tanaman tembakau ini tidak tersebar luas di seluruh daratan Eropa. Pada 1560 M ( 977 H.), Yohana Pailot, dari Vunusia mengunjungi raja Alburqanal di Panama Amerika. Tentu saja kunjungan itu bukan sekedar kunjungan. Kemungkinan besar dia membawa tambahan bibit tembakau untuk Vunusia sehingga beberapa saat kemudian tembakau tersebar ke negeri itu. Dari Vunusia, di sebarkan ke negeri-negeri Eropa yang lain. Sejak saat itu, tanaman tembakau menjadi masyhur di seluruh Eropa.
Kopi dan rokok merupakan pasangan yang sulit terpisahkan. Tak ada salahnya jika penulis mengulas tentang kopi dan manfaatnya. Kopi adalah sejenis minuman yang masyhur dan populer, khususnya dalam masyarakat kontemporer. Minuman kopi di buat di buat dari tumbukan biji-biji buah kopi. Meskipun kopi sangat tenar, berkembang hingga saat ini menjadi salah satu minuman paling populer di dunia yang dikonsumsi oleh berbagai kalangan masyarakat. Indonesia sendiri telah mampu memproduksi lebih dari 400 ribu ton kopi per tahunnya Di samping rasa dan aromanya yang menarik, kopi dapat bermanfaat untuk membangkitkan kekuatan otak dan meningkatkan kerja pikiran juga menguatkan memori/ingatan. Kopi dapat menjaga stamina pikiran, kekuatan mata, pendengaran, dan panca indra yang lain. Jika kita minum kopi sebelum makan, kopi dapat mengurangi proses pencernaan makanan dan bisa menghilangkan kegemukan. Adapun meminum kopi setelah makan, menurut sebagian ahli dapat menguatkan perut dan pencernaan.
“Apakah anda membunuh diri anda sendiri ? Ataukah membunuh rokok itu sendiri ?”
Sebagaimana kita ketahui di dalam asap sebatang rokok yang dihisap oleh perokok, tidak kurang dari 4000 zat kimia beracun yang terdiri dari komponen gas (85 persen) dan partikel.Nikotin, gas karbonmonoksida, nitrogen oksida, hidrogen sianida, amoniak, akrolein, asetilen, benzaldehid, urethan, benzen, methanol, kumarin, 4-etilkatekol, ortokresoldan perylene adalah sebaian dari beribu–ribu zat di dalam rokok. Jumlah kematian dan klaim perokok Menurut penelitian Organisasi Kesehatan dunia (WHO), setiap satu jam, tembakau rokok membunuh 560 orang diseluruh dunia.
Seperti yang di dawuhkan Syeikh al-muhaqqiq al-Bujairimi pada kitab al-Iqna fi Syarh Matn Abi Syuja’. Beliau dawuh,” Mengkonsumsi sesuatu yang dapat membahayakan badan atau fikiran hukumnya adalah haram”. Dari maqolah ini dapat di simpulkan bahwa rokok menimbulan efek yang yang dapat membahayakan tubuh si perokok.
Walaupun demikian, sebagian ulama memandang rokok itu haram karena Rokok dapat membahayakan kesehatan berdasarkan pendapat para dokter yang ahli, merokok termasuk barang yang memabukkan / melemahkan badan, bau rokok sangat tidak disenangi sehingga menyakitkan hati orang-orang yang tidak merokok, dan yang terakhir merokok di pandang sebaagai suatu pemborosan dan cerminan sifat berlebih-lebihan.
Sudah kita ketahui, bahwa terjadi perselisihan pendapat di dalam fenomena-fenomena baru yang di atur oleh syari’at seperti merokok. Abd al – Ghani menyanggah pendapat ulama yang mengharamkan rokok. Beliau membahas penyanggahan pengharaman  rokok di dalam syairnya yang sebagian ma’nanya adalah
Sungguh, mereka yang benar berilmu.
Takkan mengharamkan
 Tidak pula mereka
 Yang ahli meneliti dan menyimpulkan

Sayang, banyak di antara mereka
Banyak yang tidak tahu sifat-sifat tembakau
Gegabah pula menganggapnya kotor
Dan melempar caci

 Padahal, sifat-sifat rokok itu tiada lain
 Hanyalah sebatas klaim
Dan dengannya mereka mengharamkan rokok
 Lalu menutupi manfaatnya

Selama tembakau tetap ada sifat asalnya
 Mentari kebolehan meneranginya dari angkasa.

Dapat di simpulkan sebagian ulama yang menghalalkan rokok memandang bahwa keharaman rokok bukan karena rokok itu sendiri haram ( haram lidzati ), tetapi karena ada unsur dan faktor luar yang mempengaruhi ataupun merubah hukum halal tersebut.Yaitu ketika rokok membawa dampak dampak negatif yang telah di jelaskan di atas.

Manajemen kebidanan * 7 langkah varney


7 LANGKAH VARNEY

 Pengertian 
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, ketrampilan dalam rangkaian tahapan logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien.
Manajemen kebidanan menyangkut pemberian pelayanan yang utuh dan menyeluruh dari kepada kliennya, yang merupakan suatu proses manajemen kebidanan yang diselenggarakan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas melalui tahapan-tahapan dan langkah-langkah yang disusun secara sistematis untuk mendapatkan data, memberikan pelayanan yang benar sesuai dengan keputusan tindakan klinik yang dilakukan dengan tepat, efektif dan efisien.

2. Standar 7 langkah Varney, yaitu :

Langkah 1 : Pengkajian
Pada langkah ini bidan mengumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien, untuk memperoleh data dapat dilakukan dengan cara:
a. Anamnesa
b. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital
c. Pemeriksaan khusus
d. Pemeriksaan penunjang
Bila klien mengalami komplikasi yang perlu di konsultasikan kepada dokter dalam penatalaksanaan maka bidan perlu melakukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter. Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang di hadapi akan menentukan proses interpretasi yang benar atau tidak dalam tahap selanjutnya, sehingga dalam pendekatan ini harus yang komprehensif meliputi data subjektif, objektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi / masukan klien yang sebenarnya dan valid. Kaji ulang data yang sudah di kumpulkan apakah sudah tepat, lengkap dan akurat.

Langkah II: Merumuskan Diagnosa/Masalah Kebidanan
Pada langkah ini identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi yang akurat atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosa dan masalah yang spesifik. Rumusan diagnosa dan masalah keduanya digunakan karena masalah tidak dapat didefinisikan seperti diagnosa tetapi tetap membutuhkan penanganan. Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami wanita yang diidentifikasioleh bidan sesuaidengan hasil pengkajian. Masalah juga sering menyertai diagnosa. Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan.

Langkah III: Mengantisipasi Diagnosa/Masalah Kebidanan
Pada langkah ini mengidentifikasi masalah potensial atau diagnose potensial berdasarkan diagnosa/masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Pada langkah ketiga ini bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah potensial tidak hanya merumuskan masalah potensial yang akan terjadi tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosa potesial tidak terjadi

Langkah IV: Menetapkan Kebutuhan Tindakan Segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan/dokter dan/untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. Langkah ini mencerminkan kesinambungan dari proses penatalaksanaan kebidanan. Jadi, penatalaksanaan bukan hanya selama asuhan primer periodik atau kunjungan prenatal saja tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan terus-menerus.
Pada penjelasan diatas menunjukkan bahwa bidan dalam melakukan tindakan harus sesuai dengan prioritas masalah/kebutuhan yang dihadapi kliennya. Setelah bidan merumuskan tindakan yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi diagnosa/masalah potensial pada langkah sebelumnya, bidan juga harus merumuskan tindakan emergency/segera untuk segera ditangani baik ibu maupun bayinya. Dalam rumusan ini termasuk tindakan segera yang mampu dilakukan secara mandiri, kolaborasi atau yang bersifat rujukan.

Langkah V: Merencana Asuhan Secara Menyeluruh
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh yang ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan penatalaksanaan terhadap masalah atau diagnosa yang telah teridentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa-apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari masalah yang berkaitan tetapi juga dari krangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan konseling dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah-masalah yang berkaitan dengan sosial ekonomi-kultural atau masalah psikologi.
Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu oleh bidan dan klien agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien juga akan melaksanakan rencana tersebut. Semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan menyeluruh ini harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to date serta sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan dilakukan klien.


Langkah VI: Implementasi
Pada langkah ke enam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah ke lima dilaksanakan secara aman dan efisien. Perencanaan ini dibuat dan dilaksanakan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walaupun bidan tidak melakukannya sendiri, bidan tetap bertanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya. Dalam kondisi dimana bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam penatalaksanaan asuhan bagi klien adalah tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananyarencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Pelaksanaan yang efisien akan menyangkut waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dan asuhan klien

Langkah VII: Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasidi dalam diagnosa dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar-benar efektif dalam pelaksanaannya.
Langkah-langkah proses penatalaksanaan umumnya merupakan pengkajian yang memperjelas proses pemikiran yang mempengaruhi tindakan serta berorientasi pada proses klinis, karena proses penatalaksanaan tersebut berlangsung di dalam situasi klinik dan dua langkah terakhir tergantung pada klien dan situasi klinik

Penerapan Manajemen Kebidanan Varney Dalam Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin Resiko Tinggi Dengan Pre Eklamsi
Adapun penerapan manajemen kebidanan menurut Varney meliputi : pengkajian, intervensi data, masalah, potensial antisipasi, implementasi, intervensi, evaluasi. 

Langkah I: Pengkajian
Pasien datang periksa darik kepala sampai ujung kaki termasuk sistem tubuh, penampilan umum dan status fisiologi. Pada pasien pre eklampsi (PE) ringan kita kaji terutama ke arah adanya tanda-tanda PR eklamsia antara lain 
1. Data Subyektif 
1) Biodata 
Umur penting karena merupakan faktor predisposisi terjadinya (PE). Pada pre eklampsi berat dapat terjadi pada umur <20 tahun >35 tahun. 
2) Keluhan pasien
Dijunjukkan pada data yang terutama mengarah pada tanda dan gejala yang berhubungan dengan pre eklampsia. 
Pada keadaan ini klien mengeluh kepala pusing, kaki dan jari tangan bengkak. 
3) Riwayat penyakit keluarga
Berkaitan dengan ini dikaji terutama mengenai penyakit hipertensi dan penyakit diabetes melitus (DM), dimana keduanya merupakan penyakit keturunan. Bila hal ini terjadi maka hipertensi yang timbul dapat dijadikan data yang bukan mengacu pada tanda pre eklampsi.
4) Riwayat Kesehatan Pasien 
Ditujukan pada faktor-faktor penyakit yang diderita yang berkaitan dengan arah Predisposisi PE yaitu hipertensi. 
5) Riwayat kebidanan
Dikaji terutama riwayat kehamilan yang lalu bagi multigravida apakah pada riwayat kehamilan yang lalu mengalami hal yang sama HPHT untuk menentukan umur kehamilan, karena PE terjadi pada umur kehamilan setelah 20 minggu. 


6) Riwayat keluarga berencana 
Terutama pada ibu dengan alkon hormonal, untuk mengetahui penggunaan alkon sebelum hamil karena hipertensi salah satu kontrak indikasi penggunaan alat kontrasepsi hormonal. 
7) Riwayat perkawinan 
Kemungkinan psikologis pasien sebagai penyebab terjadinya PE, meskipun merupakan penyebab yang belum jelas. Gangguan psikologis pada ibu dapat memacu timbulnya pre eklampsi dalam kehamilan. 
8) Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari 
Perlu dikaji mengenai : 
Pola nutrisi 
Berkaitan dengan kebiasaan mengkonsumsi makanan yang asih, atau mengkonsumsi makanan yang berlebihan sehingga terjadi kenaikan berat badan yang berlebihan, ini perlu dicurigai terjadinya pre eklampsi. 
Pola aktifitas dan latihan 
Dikaji karena dasar pengobatan pada PE adalah istirahat yang cukup, dengan ini tekanan darah dan oedema berangsur berkurang. 
Pola persepsi kesehatan 
Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan usaha yang akan dilakukan ibu untuk menolong dirinya sendiri apabila terjadi PE. 
Pola persepsi kognitif 
Untuk mengkaji kemampuan daya ingat terhadap peristiwa yang pernah dialami pada masa lalu yang berkaitan dengan kejadian PE, kaitannya dengan riwayat obstetri yang lalu dan riwayat kehamilan sekarang. 

Pola pertahanan diri 
Bagaimana ibu dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya yang dapat mempengaruhi mmentalnya atau memperberat penyakitnya. 
9) Keadaan psikologis 
Terutama pada psikologis pasien yang tidak stabil karena ini salah satu faktor penyebab terjadinya PE, didalamnya terdapat data bagaimana keluarga, suami maupun dirinya sendiri menerima kehamiannya. 
10) Pengetahuan pasien 
Yang dikaji adalah berkaitan dengan pengetahuan pasien tentang pre eklampsia yang meliputi pengertian, resiko dan upaya pengobatan. 
2. Data Obyektif 
Dari data obyektif terutama dikaji mengenai 
1) Tekanan darah
Ditujukan untuk mengetahui keadaan ibu berkaitan dengan berat ringannya PE yaitu kenaikan sistolik 30 mm HG atau lebih diatas tekanan biasa, tekanan histolik naik 15 mm HG atau lebih atau menjadi 90 mm HG.
2) Berat badan 
Pada pemeriksaan awal maupun ulang untuk mengevaluasi kenaikan BB yaitu bila kenaikan berat badan ½ kg per minggu dinyatakan normal, sedang berat badan dalam 1 minggu naik 1 kg sampai beberapa kali, ini perlu diwaspadai. 
3) Muka/kaki dan jari tangan (Extremitas)
Pola PE akan terjadi oedema, pada PE ringan oedem biasanya belum terjadi, oedem terjadi karena penimbunan cairan umum dan berlebihan dalam jaringan tubuh yang dijumpai pada muka, kaki maupun jari tangan. 
4) Perkusi 
Terjadinya spasme arteriol mempengatuhi pusat rangsang saraf diotak sehingga reflek patella tidak terjadi.
5) Auskultasi 
Ditujukan untuk mengetahui keadaan janin didalam kandungan guna mendeteksi adanya gawat janin. 
3. Data Penunjang 
1) Laboratorium 
Diarahkan untuk mengkaji protein urine, karena protein urine yang positif merupakan tanda dan gejala pre eklampsi. 
2) Pemeriksaan dalam untuk menilai kemajuan persalinan. 
3) UPD untuk mengetahui ada tidaknya kesempitan panggul.

Langkah II; Merumuskan Diagnosa/Masalah Kebidanan
a. Diagnosa Nomenklatur 
Diagnosa ditetapkan berdasarkan data-data yang tekumpul dari pengkajian yaitu ; 
G1 P0 A0,umur 21 th, hamil 39 minggu
Janin tunggal.hidup intra uterin
Presentasi kepala,sudah masuk PAP,puka
Dengan pre eklamsi ringan
Masalah kebidanan
Didasari dengan tanda-tanda yang terkumpul dari pengkajian maka masalah kebidanan yang dapat ditetapkan adalah
Peningkatan tekanan darah,dan gangguan psikologi yaitu cemas karena kondisi ibu. 

Langkah III: Mengantisipasi Diagnosa/Masalah Potensial
Diagnosa potensial yang kemungkinan muncul pada ibu bersalin dengan pre eklamsi ringan adalah pre eklamsi berat
Untuk mencegah terjadinya Pre eklamsi berat dilakukan pemantauan tekanan darah 

Langkah IV: Menetapkan Kebutuhan Tindakan Segera berdasarkan
Kondisi yang mungkin muncul adalah kegawatan pada janin yang perlu tindakan segara dengan oxygenasi dan melakukan kolaborasi dengan dokter untuk penanganan atau pemberian therapy dan oxygenasi. 

Langkah V: Merencanakan Asuhan Secara Menyeluruh
Perencanaan asuhan berkaitan dengan diagnosa dan masalah yang ditetapkan dan disusun secara prioritas yaitu : 
1) Memberitahu tentang hasil pemeriksaan keadaan ibu dan janin 
2) Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian therapy dan pemeriksaan laboratorium.

Langkah VI : Implementasi
Pelaksanaan berdasarkan rencana yang disusun adalah:
1) Memberikan informasi tentang keadaan pasien. 
2) Mengadakan kolaborasi dengan dokter, bila diperlukan.
3) Memberikan pengetahuan dan memberi motivasi terhadap tidak lanjut penaganan persalinannya. 
Masalah 
Kecemasan pasien terhadap keadaan dirinya dan janinnya diberikan penyuluhan dan konseling tentang pre eklamsi dan cara mengatasinya
Kebutuhan Masalah 
Untuk pemeriksaan laboratorium, persalinan dan lain-lain akan berkolaborasi.


LangkahVII:Evaluasi 
Evaluasi dilaksanakan untuk menilai pelaksanaan asuhan kebidanan mengacu pada diagnosa nomenklatur, masalah dan kebutuhan pasien telah dapat teratasi atau belum adalah:
1) Apakah pre eklamsi ringan berlanjut menjadi pre eklamsi berat?
2) Apakah terjadi kegawatan pada janin?
pakah kecemasan pasien teratasi?

Quality Assurance proses persalinan


Quality Assurance dalam pelayanan persalinan
Sesuai dengan pelayanan standart mutu kebidanan
1.Standart input
Penglihatan: Persiapan untuk kehidupan keluarga sehat, Bidan melakukan pencatatan semua kegiatan yang dilakukan, yaitu registrasi. , rincian yang  diberikan kepada setiap ibu hamil/bersalin/nifas dan BBL..
Misi: melakukan tindakan sesuai standart yang ada dan sudah ditetapkan
Kebijaksanaan:memberikan inform concent pada klien atas keputusan dari hasil wawasan dari bidan
Tujuan: menciptakan kualitas yang sesuai dengan standart dan sesuai dengan kepuasan klien
Strategi: upaya bagaimana agar sesuai dengan harapan dan tindakan antisipasi
deskripsi pekerjaan: dilakukan sesuai dengan standart dan mutu
spesifikasi pekerjaan: terjamin atas kepuasan klien
2.Standart proses
STANDAR PELAYANAN PERTOLONGAN PERSALINAN
        Terdapat empat standar dalam standar pelayanan pertolongan persalinan seperti berikut :
    1.Asuhan Persalinan Kala I.
Pernyataan standar : Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai, kemudian memberikan asuhan dan pemantauan yang me
madai, dengan memperhatikan kebutuhan klien, selama proses persalinan berlangsung.
     2. Persalinan Kala II Yang Aman.
Pernyataan standar : Bidan melakukan pertolongan persalinan yang aman, dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap klien serta memperhatikan tradisi setempat.
3.Penatalaksanaan Aktif Persalinan Kala Tiga.
Pernyataan standar : Bidan melakukan penegangan tali pusat dengan benar untuk membantu pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap.
    4. Penanganan kala II dengan gawat janin melalui episiotomi.
Pernyataan standar : Bidan mengenali secara tepat tanda-tanda gawat janin pada kala II yang lama, dan segera melakukan episiotomi dengan aman untuk memperlancar persalinan, diikuti dengan penjahitan perineum.
        STANDAR PENANGANAN KEGAWATDARURATAN OBSTETRI-NEONATAL.
         Di samping standar untuk pelayanan kebidanan dasar ( antenatal, persalinan dan nifas), di sini ditambahkan beberapa standar penanganan kegawatan obstetri-neonatal. Seperti telah dibahas sebelumnya, bidan diharapkan mampu melakukan penanganan keadaan gawat darurat obstetric-neonatal tertentu untuk penyelamatan jiwa ibu dan bayi. Di bawah ini dipilih sepuluh keadaan gawat darurat obstetri-neonatal yang paling sering terjadi dan sering menjadi penyebab utama kematian ibu/bayi baru lahir.
1 Penanganan Perdarahan Dalam Kehamilan, Pada Tri-mester III.
Pernyataan standar : Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala perdarahan pada kehamilan, serta melakukan pertolongan pertama dan merujuknya.
2.      Penanganan Kegawatan Pada Eklamsia.  
 Pernyataan standar : Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala eklamsia mengancam. Serta merujuk dan atau memberikan pertolongan pertama.
3    Penanganan Kegawatan Pada Partus Lama/Macet Pernyataan standar : Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala partus lama/macet serta melakukan penanganan yang memadai dan tepat waktu atau merujuknya.
4.      persalinan dengan penggunaaan Vakum Ekstraktor Pernyataan standar : Bidan mengenali kapan diperlukan ekstraksi vakum,melakukannya secara benar dalammemberikan pertolongan persalinan dengan memastikan keamnannya bagi ibu dan janin.
5.      Penanganan Retensio Plasenta.
Pernyataan standar : Bidan mampu mengenali retensio placenta dan memberikan pertolongan pertama termasuk plasenta manual dan penangan perdarahan sesuai dengan kebutuhan.
6    Penangan Perdarahan Postpartum Primer.
Pernyataan standar : Bidan mampu mengenali perdarahan yang berlebuhan dalam 24 pertama setelah persalinan (perdarahan postpartum primer) dan segera melakukan pertolongan pertama untuk mengendalikan perdarahan.
7.      Penanganan Perdarahan Postpartum Sekunder.
Pernyataan standar : Bidan mampu mengenali secara tepat dan dini tanda serta gejala perdarahan postpartum sekunder, dan melakukan pertolongan pertama untuk penyelamatan jiwa ibu dan atau merujuknya.
8.      Penanganan Sepsis Puerperalis.
Pernyataan standar: Bidan mampu mengenali secara tepat tanda dan gejala sepsis puerperalis, serta melakukan pertolongan pertama atau merujuknya.
9.    Penanganan Asfesia Neonatorum.
Pernyataan standar : Bidan mampu mengenali dengan tepat bayi baru lahir dengan asfeksia, serta melakukan resusitasi secepatnya, mengusahakan bantuan medis yang diperlukan dan memberikan perawatan lanjutan.
   Asuhan Selama Hamil dan Kelahiran
Ø  Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, tangap terhadap kebudayaan setempat selama persalinan, memimpin suatu persalinan yang bersih dan aman, menangani situasi kegawatdaruratan tertentu untuk mengoptimalkan kesehatan wantia dan bayinya yang baru lahir.
Asuhan Konseling selama Kehamilan
Ø  Bidan memberikan asuhan antenatal bermutu tinggi untuk mengoptimalkan kesehatan selama kehamilan yang meliputi: deteksi dini, pengotan atau rujukan.
            Asuhan Selama Hamil dan Kelahiran
Ø  Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, tangap terhadap kebudayaan setempat selama persalinan, memimpin suatu persalinan yang bersih dan aman, menangani situasi kegawatdaruratan tertentu untuk mengoptimalkan kesehatan wantia dan bayinya yang baru lahir.
3.Standar Output
1. Klien merasa puas atas kerja dan pelayanan bidan
2.Klien dapat nyaman dan dapat pulang dengan dengan senang
3.Klien pulang dalam keaadaan sehat dan kuat.

Perencanaan BPS


Perencanaan Membuat Bidan Praktek Swasta
Sesuai dengan analisis PDCA (plan-do-check-tindakan atau rencana-do-check-menyesuaikan) adalah iteratif empat-langkah metode manajemen yang digunakan dalam bisnis untuk kontrol dan perbaikan terus-menerus dari proses dan produk. Hal ini juga dikenal sebagai Deming lingkaran / siklus / roda, siklus Shewhart, kontrol lingkaran / siklus, atau rencana-do-penelitian-tindakan (PDSA). Versi lain dari ini adalah siklus PDCA OPDCA. Menambahkan "O" adalah singkatan dari pengamatan atau sebagai beberapa versi mengatakan "Pegang kondisi saat ini”.
Langkah-langkah dalam setiap siklus PDCA berturut-turut adalah:
RENCANA
Menetapkan tujuan dan proses yang diperlukan untuk menyerahkan hasil sesuai dengan output yang diharapkan (target atau tujuan). Dengan membangun harapan output, kelengkapan dan keakuratan spesifikasi juga merupakan bagian dari perbaikan yang ditargetkan. Bila mungkin dimulai dalam skala kecil untuk menguji kemungkinan efek.
DO
Melaksanakan rencana tersebut, melaksanakan proses, membuat produk. Mengumpulkan data untuk grafik dan analisa dalam "TARIF" berikut dan "ACT" langkah-langkah.
LIHAT
Mempelajari hasil aktual (diukur dan dikumpulkan dalam "DO" di atas) dan membandingkan terhadap hasil yang diharapkan (target atau tujuan dari "PLAN") untuk memastikan setiap perbedaan. Carilah penyimpangan dalam pelaksanaan dari rencana dan juga mencari kesesuaian dan kelengkapan rencana untuk memungkinkan pelaksanaan, yaitu, "Do". Charting data dapat membuat ini lebih mudah untuk melihat tren selama siklus PDCA beberapa dalam rangka untuk mengubah data menjadi informasi yang dikumpulkan. Informasi adalah apa yang Anda butuhkan untuk "ACT" langkah berikutnya.
ACT
Permintaan tindakan korektif pada perbedaan yang signifikan antara hasil aktual dan terencana. Menganalisis perbedaan untuk menentukan akar penyebabnya. Tentukan di mana untuk menerapkan perubahan yang akan mencakup perbaikan proses atau produk. Ketika melewati empat langkah tidak mengakibatkan kebutuhan untuk meningkatkan, ruang lingkup yang PDCA diterapkan dapat disempurnakan untuk merencanakan dan meningkatkan dengan lebih rinci pada iterasi berikutnya dari siklus, atau perhatian harus ditempatkan di berbagai tahap proses.
    Catatan: beberapa pelatih modern sekarang juga merujuk pada "A" sebagai "Adjust". Hal ini membantu peserta untuk memahami bahwa langkah 4 adalah lebih lanjut tentang menyesuaikan / mengoreksi perbedaan antara keadaan saat ini dan keadaan yang direncanakan daripada berpikir bahwa "A" adalah semua tentang tindakan dan implementasi (yang sebenarnya terjadi di kedua ("D" ) tahap).


     PDCA yang dipopulerkan oleh Dr W. Edwards Deming, yang dianggap oleh banyak untuk menjadi ayah dari kontrol kualitas modern, namun, ia selalu menyebutnya sebagai "siklus Shewhart". Kemudian dalam karir Deming, ia memodifikasi PDCA untuk "Merencanakan, Do, Study, Act" (PDSA) karena ia merasa bahwa "cek" menekankan pemeriksaan atas analisis .
   Konsep PDCA didasarkan pada metode ilmiah, yang juga dikembangkan dari karya Francis Bacon (Novum Organum, 1620). Metode ilmiah dapat ditulis sebagai "hipotesis" - "percobaan" - "evaluasi" atau plan, do dan memeriksa. Shewhart menggambarkan pembuatan bawah "kendali"-di bawah kendali statistik-sebagai proses tiga langkah spesifikasi, produksi inspeksi.
   PDCA harus berulang kali diimplementasikan dalam spiral meningkatkan pengetahuan dari sistem yang berkumpul di tujuan akhir, setiap siklus lebih dekat daripada sebelumnya. PDCA-metode ilmiah-memberikan umpan balik untuk membenarkan tebakan bidan dan meningkatkan pengetahuan bidan . Daripada masukkan "kelumpuhan analisis" untuk mendapatkannya sempurna pertama kalinya, lebih baik menjadi sekitar kanan daripada persis yang salah. Dengan peningkatan pengetahuan, kita dapat memilih untuk memperbaiki atau mengubah tujuan (kondisi ideal). Tentu saja, pendekatan PDCA dapat membawa kita lebih dekat dengan apa pun tujuan kita pilih .
    Tingkat perubahan, yaitu, tingkat perbaikan, merupakan faktor kunci yang kompetitif di dunia saat ini. PDCA memungkinkan untuk besar "melompat" dalam kinerja ("terobosan" sering diinginkan dalam pendekatan Barat), serta Kaizen (perbaikan kecil sering).
    Memiliki rencana kegiatan yang disusun secara sistematis mengenai kegiatan atau pelyanan yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi untuk mencapai tujuan sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan dengan efektif dan efisien.
#Tujuannya adalah mempertimbangkan hambatan,dukungan dan potensi yang ada.,atas visi dan mempertimbangkan misi,dengan Quality Assurance> Pelayanan yang diinginkan pasien bisa bermutu
Tahap Perencanaan
1.     Tahap persiapan
2.     Tahap analisis situasi
3.     Tahap penyusunan sistem kerja

Mempunyai acuan untuk suatu tindakan yang bisa diprediksikan kembali kepada visi yang telah dibuat.